Dhungkah, Tradisi Musik Kuno Pulau Bawean - Berita Bawean
Beritabawean.com - Hampir semua daerah di Indonesia memiliki tradisi musik kuno yang sampai saat ini masih dilestarikan, Seperti di tradisi musik kuno Dhungkah yang ada di pulau Bawean misalnya, Walaupun Dhungkah saat ini hanya di tampilkan pada momen momen tertentu saja, Tradisi musik ini masih dilestarikan hingga kini di sejumlah dusun.



Dhungkah atau Lesung, Merupakan alat penumbuk padi dan sagu peninggalan nenek moyang orang Bawean, Dulu hampir setiap rumah memiliki alat ini, namun saat ini Dhungkah ini susah sekali ditemui. Kalaupun ada, masyarakat sudah tidak difungsikannya untuk peralatan pertanian melainkan sudah digunakan sebagai alat musik.

Baca Juga :
Koplak Koplak, Barong Ala Bawean
Bukti Pulau Bawean Berperan Penting Dalam Perdagangan Nusantara
Nama Bahasa Bawean Ini Tak Perlu Dibahasa Indonesiakan
Kebiasaan Unik Orang Bawean Ini Bikin Polres Gresik Geleng Geleng

Dipadu dengan alu sebagai alat pemukul, Dhungka akan menghasilkan alunan musik yang rancak dan unik, siapa yang mendengarkannya akan terbawa kepada suasana pulau Bawean zaman dulu. Biasanya alat musik ini dimainkan oleh kaum perempuan sebanyak 8 hingga 12 orang. Kekompakan dalam memadukan pukulan merupakan kunci merdunya alunan musik ini.

 Dhungka biasanya sebagai iringan musik dari lagu lagu pantun atau yang dikenal dengan "Mandiling" atau shalawatan. Pantun yang di senandungkan biasanya mengandung pesan pesan moral atau keritikan. Saat ini dhungka sudah menjadi salah satu icon wisata pulau Bawean yang perlu dilestarikan sebagai daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke pulau Bawean.

Dhungkah, Tradisi Musik Kuno Pulau Bawean

Beritabawean.com - Hampir semua daerah di Indonesia memiliki tradisi musik kuno yang sampai saat ini masih dilestarikan, Seperti di tradisi musik kuno Dhungkah yang ada di pulau Bawean misalnya, Walaupun Dhungkah saat ini hanya di tampilkan pada momen momen tertentu saja, Tradisi musik ini masih dilestarikan hingga kini di sejumlah dusun.



Dhungkah atau Lesung, Merupakan alat penumbuk padi dan sagu peninggalan nenek moyang orang Bawean, Dulu hampir setiap rumah memiliki alat ini, namun saat ini Dhungkah ini susah sekali ditemui. Kalaupun ada, masyarakat sudah tidak difungsikannya untuk peralatan pertanian melainkan sudah digunakan sebagai alat musik.

Baca Juga :
Koplak Koplak, Barong Ala Bawean
Bukti Pulau Bawean Berperan Penting Dalam Perdagangan Nusantara
Nama Bahasa Bawean Ini Tak Perlu Dibahasa Indonesiakan
Kebiasaan Unik Orang Bawean Ini Bikin Polres Gresik Geleng Geleng

Dipadu dengan alu sebagai alat pemukul, Dhungka akan menghasilkan alunan musik yang rancak dan unik, siapa yang mendengarkannya akan terbawa kepada suasana pulau Bawean zaman dulu. Biasanya alat musik ini dimainkan oleh kaum perempuan sebanyak 8 hingga 12 orang. Kekompakan dalam memadukan pukulan merupakan kunci merdunya alunan musik ini.

 Dhungka biasanya sebagai iringan musik dari lagu lagu pantun atau yang dikenal dengan "Mandiling" atau shalawatan. Pantun yang di senandungkan biasanya mengandung pesan pesan moral atau keritikan. Saat ini dhungka sudah menjadi salah satu icon wisata pulau Bawean yang perlu dilestarikan sebagai daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke pulau Bawean.