Friday, 15 December 2017

Pak Awi Bawean dan Desa Terahir Di Singapura

Beritabawean.com - Kampong Lorong Buangkok satu-satunya kampung yang tersisa di Singapura abad 21 yang masih bertahan di tengah tengah tengah kemajuan negara singa itu. Luas tanahnya 2 hektare, kini luasnya tinggal 1,2 hektare. Tanah di Lorong Buangkok dimiliki oleh swasta, dan hingga sekarang belum dibeli oleh negara. hingga kini, kawasan ini tetap bertahan sebagai kampung yang asri namun dikelilingi oleh apartemen tinggi.


Pak Awi warga Singapura keturunan  Bawean

Jalan kampung ini masih berupa makadam, yang masih sering tergenang saat turun hujan. Pohon pohon masih tetap di biarkan tumbuh alami. Kawasan perkampungan ini terletak 18 Kilometer dari Bandara Changi dan hanya 4 kilo meter dari pusat kota.

Sejak satu dekade lalu banyak banyak isu yang terdengar kalau kampung ini akan dibeli pemerintah lalu akan dijadikan lahan apartemen. Namun hingga sekarang, hal itu tak pernah kejadian. 

Di Lorong Buangkok, kita bisa menemukan bangunan-bangunan klasik yang di desain dengan arsitektur khas rumah pedesaan Melayu. 




Pak Awi merupakan warga Singapura keturunan Bawean. Ayah-ibunya bermigrasi ke Pulau Ubin sebagai pekerja tambang granit. Hingga sekarang, ayah empat orang anak ini masih menggunakan Bahasa Boyan, rumpun bahasa Madura yang dipakai di Pulau Bawean, untuk bercakap dengan kawan-kawan dan sejawat dari Bawean.

Di Surau Al Firdaus, biasanya warga minum kopi selepas sholat Maghrib dan Isya berjamaah. Pengurus surau ini adalah Pak Awi (82). 

Tumbuh di negara multikultur, membuat Pak Awi bisa empat bahasa. Setidaknya dia bisa bahasa Melayu, Inggris, Cina, dan Boyan. Ia juga bisa sedikit bercakap dan menulis dalam bahasa Bengali. 

Di Surau Al Firdaus, biasanya warga minum kopi selepas sholat Maghrib dan Isya berjamaah. Pengurus surau ini adalah Pak Awi

Di Surau Al Firdaus, biasanya warga minum kopi selepas sholat Maghrib dan Isya berjamaah. Pengurus surau ini adalah Pak Awi 

Tanah ini dibeli oleh Sng Teow Koon, seorang penjual obat Cina, pada 1956. Lalu dia membangun rumah di atas tanah yang dulu bekas rawa-rawa. Kemudian banyak orang lain membangun rumah di sana, dengan menyewa tanah pada Koon. Lama kelamaan, kawasan ini jadi kampung.





Tanah di Lorong Buangkok dimiliki oleh swasta, dan hingga sekarang belum dibeli oleh negara. Karenanya, kawasan ini tetap bertahan sebagai kampung yang asri namun dikelilingi oleh apartemen tinggi.

Kampong Lorong Buangkok adalah keping sejarah yang bisa menunjukkan akar Singapura. Jika kampung ini hilang, bisa dipastikan tak ada yang bisa menyaksikan langsung bagaimana sejarah Singapura. Orang hanya akan bisa membaca dan menengoknya di perpustakaan atau di internet

Sumber = Tirto.id

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post