Rabu, 12 Desember 2018

Resensi Buku, Tradisi Maulid Antara Tradisi Dan Keharusan

RESENSI BUKU
Oleh: Abdul Gafur, S.Kom

Judul Buku               : Peringatan Maulid Antara Tradisi & Keharusan
Penulis                      : Sugriyanto
Tahun Terbit             : 2018
Penerbit                    : PT Ilalang Lamongan JawaTimur
Cetakanke                 : 1 (pertama)
TebalBuku                 : 204 halaman
Harga                         : Rp. 60.000

Kehadiran buku berjudul " Peringatan Maulid Nabi Antara Tradisi dan Keharusan" goresan pena Bapak Sugriyanto ini mencoba memberi pencerahan kepada khalayak mengenai peringatan maulid yang sejati dan semestinya dilakoni oleh umat Islam di belahan dunia, termasuk umat Islam di Pulau Bawean.

Peringatan maulid yang digeber setiap bulan Rabiul Awal oleh warga Pulau Bawean memiliki keunikan-keunikan yang tiada duanya di muka bumi, baik dari aspek materi dan ritualnya. Hal itu mulai tersibak rahasianya lewat buah pikiran yang termaktub dalam buku tersebut.



Selama ini warga Pulau Bawean cukup kental dengan tradisi lisannya. Segala informasi masa silam terkadang hanya terceritakan dari mulut kemulut hasil "ngaji kopeng" yang dikulak dari sumber lisan pula. Sering terjadi pameo bahwa maulid dialih bahasakan oleh warga Pulau Bawean menjadi "Molod" yang disejajarkan maknanya dengan kata "mulut" atau "colok" karena seringkali usai peringatan mauled masih menyisakan cerita berbelit yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Untuk mengawetkan tuturan lisan itu maka penulis buku tersebut di atas berusaha menerbitkan sebuah buku yang dapat dikatakan isi materi dapat dikstakan sudah mendekati keabsyahan dalam penulisannya. Pembaca akan diajak berwisata menjenguk tradisi maulid yang di lakukan warga di Pulau Bawean sebagai nostalgia terindah dalam beberapa bagian kisah penuh hikmah.

Bagian ini tergambarkan secara detail di bagian "Pernak-Pernik Maulid". Penulis cukup jeli membaca situasi mengenai betapa penting dan urgennya sebuah tradisi yang bernilai keharusan ini harus tetap dilestarikan selama faedah dan kebaikannya tidak menabrak tatanan hokum fiqih.

Bisa dibayangkan bila perayaan peringatan maulid di Pulau Bawean itu sirna,  maka siapa lagi yang akan merawat tempat ibadah di setiap tahunnya. Semangat membangun kebersamaan dan kekompakan dalam bingkai membangkitkan kembali nilai-nilai perjuangan akan memudar tanpa adanya suatu "ijtihad" suci seperti perayaan peringatan Maulid Nabi ini.

Buku ini juga mencoba merekonstrusi peristiwa tahapan antra periode maulid dari tahun ketahun hingga kekinian atau maulid mutaakhir yang sudah melenceng jauh dari akar budayanya sendiri. Sebagai wujud dari kearifan local rupanya perlu adanya usaha untuk mengkonservasi atau mengawet kantradisi yang dikemas dalam sebuah tulisan.

Penulis mencoba memberi masukan atau pandangan bahwa saat ini perayaan peringatan Maulid Nabi sudah terjadi pemelencengan dengan semangat atau bernafsu mengangkat "bherkat angka'an" yang hampir sama sekali tiada bernilai tradisi. Polapikir "siap saji" telah merasuk hingga bermewah-mewah tak maukalah dengan "bherkat angka'an" warga lainnya.

Padahal, yang diperingati itu adalah Rasulullah Muhammad, SAW sebagai suriteladan atau "Uswatun hasanah" sangat bersahaja dalam hidupnya penuh kesederhanaan. Berarti kita telah memperingati dan lupa akan sosok Baginda Rasulullah Muhammad, SAW.

Dengan demikian kehadiran buku berjudul "Peringatan Maulid Nabi Antara Tradisi dan Keharusan" buah pena Bapak Sugriyanto ini layak menjadi bahan bacaan publik, khususnya warga Pulau Bawean sebagai pewaris dan pelanjut tradisi bernilai keharusan tersebut. Selamat membaca!



EmoticonEmoticon